Pertentangan Aliran Sunni dan
Syiah memang tidak bisa dipungkri. Dua aliran ini ibarat air dan minyak yang
tidak bisa bersatu. Bahkan, di negera Irak dan Iran pun kedua aliran ini selalu
bertentangan karena memiliki pengikut yang sama besar.
Menurut Ketua MUI Jawa Timur KH Abdussomad Bukhori, jika sebuah negara terdapat
dua aliran ini dengan kekuatan yang sama, maka negera tersebut tidak akan
tentram. “Sunni dan Syiah memang tidak bisa ketemu. Rukun Imannya saja
berbeda,” kata Abdussomad, Sabtu (31/12/2011).
Dia menjelaskan, selain itu ada beberapa perbedaan yang menonjol aliran Syiah
dengan umat Islam pada umumnya. Seperti adzan saja berbeda. Di Syiah, lantunan
adzan diubah ada tambahan dua bait. Kemudian dari ibadah sholatnya.
“Di Syiah sholatnya berbeda. Yakni, sholat Dzuhur dan Ashar digabung jadi satu.
Kemudian juga dengan sholat Maghrib dan Isyak. Tak hanya itu, di aliran Syiah
Jum’atan tidak wajib. Jika sudah sholat Dzuhur tidak perlu sholat Jum’at.
Perbedaan itulah yang tidak bisa ketemu dengan umat Islam pada umumnya,”
jelasnya.
Tak hanya itu, Nikah Mut’ah (kawin kontrak) juga diperbolehkan di Aliran Syiah.
Selain itu, kalangan Syiah sering mencaci maki sahabat Nabi seperti Abu Bakar,
Umar bin Khotob, Usman bin Affan karena dianggap telah merampas jabatan Nabi.
Abdussomad juga mengatakan, di aliran Syiah ini memang terbagi menjadi beberapa
sekte. Yang intinya ada Sekte Syiah sestrem dan lunak. “Walau pun sekte yang
lunak ini ajarannya tetap bertentangan dengan umumnya umat Islam,” tandasnya.